TERNYATA AIR
DEKAT DENGAN TANAH TANDUSKU
BY NORMAYANTI
Perkenalkan namaku
NAILA PUTRI. Aku seorang penulis di sebuah perusahaan penerbitan, aku sekarang
sedang menjalani tugas sebagai pengarang cerita pendek atau cerpen untuk
majalah anak-anak. Sudah kurang lebih 2 tahun pekerjan ini aku jalani dengan
penuh hikmat tanpa halangan ditambah manegerku yang baik plus ramah. Aku
tinggal serumah dengan salah satu adikku yang sekarang masih kuliah di salah
satu perguruan tinggi yang ada di Jambi.
Menurut orang-orang
sekitarku, kepribadianku adalah hidup sesukaku dan tidak teratur, bukan orang
yang rapi dan tidak rajin, hidupku menurut mereka bahagia dan penuh keceriaan
tidak pernah mengeluh dan bertekad baja. Otot kawat tulang besi, bukan itu
Samson.
Next aku mengukir kisah
ini disaat aku mulai beranjak remaja. Tepat saat aku duduk di bangku SMP di
kampung halamanku. Sebenarnya aku ingin masuk pondok pesantren saat itu tapi
kata ibu, “kamu masih terlalu dini untuk melakukan semua dengan sendiri” gitu. Ya
aku sebagai anak, tak bisa berbuat apa-apa kalau orang tua sudah tidak
mengizinkan hanya tinggal nurut saja.
Aku ingat saat itu hari
senin pelajaran di kelasku sudah hendak dimulai, ada seorang murid yang
terburu-buru masuk ke kelas dan langsung duduk di bangku sebelahku, yang saat
itu masih kosong. Aku hanya menatapnya dengan heran, “ini siapa tahu-tahu
langsung nyelonong duduk disebelahku tanpa izin dulu “ batinku. Dia melihatku
lalu cuek dan membuang muka, kesalnya minta ampun aku dibuatnya.
Seorang guru tiba-tiba
masuk dan menyapa kami. “pagi anak-anak ini pertama kalinya kita bertemukan?”
katanya. “ iya buuuu”, jawab kami hampir bersamaan seperti dikomando. “maka
dari itu kita kenalan dahulu, oke!” lanjutnya.
Perkenalan pun berlanjut
hingga jam pelajaran itu habis. Begitulah seterusnya setiap guru masuk ke kelas
hingga jam pelajaran berakhir dengan bunyi bel tiga kali. Murid yang duduk
disebelahku tadi sedikit pun tidak berbicara padaku, terkadang hanya memandang
sekilas. Oh aku tahu namanya Inna Dwinda, aku tahu karena perkenalan di kelas
tadi. Saat aku hendak keluar kelas aku berusaha agar bisa di depannya untuk
menyapanya, tapi usahaku sia-sia ia terlihat terburu-buru sehingga aku tak bisa
mengejarnya. Inna gadis remaja yang cantik, rambutnya ikal bergelombang seperti
disosis, kulitnya putih bersih kayak orang-orang bule. Tapi sikapnya yang
membuatku tidak senang, ia terlihat seperti gadis yang cuek, tidak peduli
sekitar dan tertutup, ini hanya pandangan dari mataku saja karena aku belum
mengenalnya lebih dekat.
Itulah awal perjalanan panjangku menuju sebuah
jalan yang penuh kelok-kelokan.
Hampir dua minggu kami
masuk sekolah, tapi tak ada tanda-tanda gadis cuek disebelahku ini ingin
berkenalan denganku. Aku gelisah dan berpikir keras bagaimana supaya aku bisa berkenalan
dengannya. Aku mencoba menjatuhkan penaku di bawah kursinya, berharap ia
merespon, tapi sayang ia tak merespon seperti harapanku ia hanya mengambil pena
itu dan meletakannya di depanku. Aku tidak hilang akal, aku menyikutnya
kemudian aku minta maaf berpura-pura itu sebuah ketidaksengajaan. Tapi belum
rencana ini terlaksana seperti yang aku bayangkan bel keluar main berbunyi. Ah
gagal rencanaku. Aku tak begitu saja berputus asa, saat ia hendak keluar aku
mencoba ramah dan tersenyum kepadanya, kemudian apa responsnya ia hanya
melengos pergi tanpa membalas senyumku, gondokku sudah menutupi semua mukaku, aku
malunya nggak ketulungan.
Semua usaha kecilku seperti
mencagilnya, menjailinya sudah kujalani dan semua usaha itu berakhir tanpa
hasil yang memuaskan. Tapi aku tidak menyerah masih ada cara lain dan aku
percaya dengan kata pepatah ini “kalau ada niat pasti ada jalan”, betul kan?.
Bel masuk kelas
berbunyi. Teeet teeet. Aku sudah duduk manis saat ia masuk kemudian duduk di
sebelahku. Aku ingin sekali menyapanya, tapi ragu takut kejadian sebelumnya
terulang lagi. Setelah ku kumpulkan semua keberanianku, Bissmillah. “hai!” aku
mencoba ramah dan membuat suasana hangat. “hai” katanya dengan nada datar. Aku
berdehem. “kita kan udah sebangku dua minggu tapi kita belum pernah kenalan
secara langsung”,lanjutku. “trus?” jawabnya tetap focus pada buku di depannya.
“kenalin namaku Naila
Putri. Aku dari SD 122/X tepatnya itu SD sebelah. Aku tinggal tidak jauh dari
sekolah kita ini kok. Hmm… Nama kamu Inna, kan?”, tanyaku dengan snyum-senyum
malu. Dia hanya mengangguk. “iya aku tahunya saat perkenalan pertama dulu.” Lanjutku
sambil berpikir, ini anak kok nyolot banget ya aku udah usaha buat kenalan baik-baik
eeeh dianya malah nyebelin. “hmmm, itu kamu sudah tahu aku.” Jawabnya singkat,
padat plus di injek-injek biar tambah padat, dan tetap tak memandang ke arahku.
Aku tak berkata-kata
lagi. Jleeb seperti tertonjok pukulan penuh di perutku. Aku menyerah. Mungkin
ia sedang ada masalah makanya ia sedikit sensitive, batinku mencoba berpositif
thingking.
Aku tidak pernah
melihatnya bergaul dengan teman-teman yang lain. Aku sering mencoba mengajaknya
untuk bergabung dengan kelompok kami tapi ia hanya menggeleng dan kembali asik
dengan buku di depannya. Temen-temen sekelasku bertanya padaku, “kenapa dia
bertingkah seperti itu?”. Aku hanya diam atau berkata aku tak tahu.
777
Sore ini aku ada acara
dengan teman kerjaku, katanya merayakan kesuksesan yang telah kami raih. Acara
makan malam bersama seluruh staf perusahaan, sekalian mengenalkan pegawai baru.
Tiba di kafe kotree.
Aku datang terlambat karena diluar sedang hujan deras. Aku langsung berbaur
dengan teman-temanku.
Di sudut meja ada
seorang wanita yang menggunakan kerudung biru, lalu tersenyum padaku. Wajahnya
tidak asing di ingatanku. Wajah itu mirip wajah gadis remaja yang selalu
sendiri sambil memegang buku, tapi kenapa berkerudung? Apa aku salah orang,
batinku.
Wanita itu mendekat dan
menyapaku. “Naila, kan?” katanya dengan suara lembut. Aku hanya mengangguk. Lalu ia memelukku
sambil mencium pipi kiri dan kananku. Aku hanya diam tak merespon.
“apa kabar?” katanya
lagi. “Hah! Ak..u.. Alhamdulillah baik”, aku sedikit kiku dan tak percaya
dengan yang ku lihat.
Dia tersenyum. “Nai
kamu lupa sama aku?”, heran melihatku tetap diam terpaku.
Aku dengan memasang
wajah berfikir keras seakan-akan sedang mengingat sesuatu. “Ahh aku ingat Inna
Dwinda anaknya pak kusnan yang cengeng, Hahaha….”, Tawaku pecah. Lalu aku
memeluknya erat.
“hahahaha… kamu Naila
pengagum yang malang”, sambil mencuil pipiku.
Aku merengut
seolah-olah tersinggung dengan gurauannya. “Eh aku sudah bukan pengagum lagi,
tapi di kagumi oleh para pengagumku. Hehehe..”.
“iya deh. Susah lah
kalo mbak Naila udah ngotot”, jawabnya menengahi.
Aku berbicara panjang
lebar tinggi gede semua nya aku omongin dengannya. Ia hanya mendengarkan
ocehanku dan sesekali tertawa renyah menanggapi ocehanku.
Teman-teman kerja aku
saling tatap pandang melihat kami yang sangat akrab. Tity salah satu teman
kerjaku mendekat dan ikut berbincang-bincang dengan kami. Pembicaraan sore itu
sangat seru dan penuh keceriaan di wajah kami. Adzan Magrib berkumandang
membuat obrolan kami terhenti, kami memutuskan untuk pulang karena teman-teman
yang lain sudah banyak yang pulang sejak tadi.
777
Aku berjalan di koridor
sekolah saat pulang sekolah. Di persimpangan jalan aku melihat Inna murid yang
duduk di sebelahku sedang menangis di samping kelas sendirian. Aku mendekat
ingin membantunya siapa saja aku bisa menolong meringankan bebannya. Melihatku
tangisnya semakin terisak-isak dan… ia langsung berlari memelukku. Aku diam tak
bergerak bingung apa yang harus aku lakukan.
“hmmmm… Inna, kamu..
kenapa?” aku mencoba memecah kesunyian ini.
Ia berlahan-lahan
melepaskan pelukannya dan menyapu air mata di pipinya. “mengapa semua orang
tidak pernah mengerti aku dan menganggap aku ada? Aku ingin seperti anak lain
yang bahagia berada dalam keharmonisan keluarga, aku ingin mereka mengerti
kemampuanku, mengerti sikapku. Aku ingin seperti Gadis kecil beranjak remaja
yang dipenuhi rasa bahagia karena jatuh cinta, memiliki sahabat yang selalu
menceritakan hal-hal yang lucu untuk di tertawakan, sahabat tempat kita berbagi
kisah.” Katanya sambil menyeka air mata yang mengeliri pipi tembemnya.
777
Pagi yang cerah
ditambah ini adalah tanggal baru di bulan Agustus. Aku libur kerja dan akan
berencana pergi ke sebuah tempat bersama Inna. Kata Inna tempat itu adalah
tempat anak-anak manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT, tempat para
pelaksana sunnah Nabi dan tempat selalu terlantunya ayat-ayat Al-Qur’an.
SubhanAllah, dimana ada tempat seperti itu.
Tepat pukul 8 pagi, Inna menjemputku.
“Na kita mau kemana toh
sebenarnya?” tanyaku penasaran. Si Innanya hanya tersenyum terus menggeleng.
Jadi akuyang lakukan hanya duduk sambil memendam rasa penasaranku. Dari arah
jalanan yang kami lalui seperti masuk ke pelosok desa. Dimana ini?.
Perjalanan yang kami
tmpuh hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke tempat tujuan. Sebelum
memasuki tempat itu kami sudah disuguhi pemadangan yang sangat mempesona. Dan
sampailah kami di sebuah gapura yang bertuliskan pondok pesantren Babussalam.
Waah mulutku ternganga melihat para penghuni gapura itu. Semua penghuninya
adalah perempuan, tidak ada laki-laki disini. Semua mengenakan pakaian rapi,
berseragam sama, memancarkan kasih sayang setiap bertatap muka, dan tak lupa
kitab suci Al-Qur’an selalu di dekapan tangan dan dada mereka.
“Inna mengapa kau
mengajakku kesini?”.
“Disini aku menjadi
wanita dan manusia yang sesungguh Nai, awal aku kesini saat kita berpisah.
Budeku yang tinggal di sekitar sini menyarankanku untuk nyantri disini. Maka
itu sekarang aku sudah berhijab dan menutup auratku. Mengapa aku mengajakmu
kesini, karena aku ingin mengajakmu bersama-sama belajar dibarengi melakukan
syariat islam. Kamu maukan?” katanya dengan lembut.
Tak terasa air mataku
mengalir dan hatiku bergetar hebat mendengar tuturnya, sungguh indahnya Kau
menciptakaan persahabat ini yang membawaku kembali ke jalan-Mu ya Rabb. Aku
mengangguk pelan kemudian berhambur memeluknya erat-erat sekali. “aku mau… aku
mau Inna”.
777
Semenjak Inna kepergok
nangis di samping kelas itu, kami jadi sahabat akrab, bahkan sangat akrab.
Awalnya teman sekelasku heran kenapa kami bisa dekat, sebab lihat saja Inna, ia
yang tak mau bicara dengan siapa pun sekarang bisa tertawa lepas bersamaku,
tapi mereka tidak terlalu ambil pusing dan mengabaikan kami. Biarlah, bagus
dong itu komentar mereka.
Soal mengapa dia
menangis, katanya ia iri sama kakaknya yang selalu bisa membahagiakan orang
tuanya. Ia juga bilang kalau kasih sayang yang orang tuanya berikan padanya
tidak sama seperti pada kakaknya. Pilih kasih gitu. Aku hanya memberi saran
padanya kalau rasa iri itu wajar tapi jangan sampai membuatmu lupa diri dan
membuatmu menyesal kelak.
Terus ini masih soal
Inna kenapa dia dulu pendiem dan gak mau berteman sama temen-temen yang lain,
karena ia tidak mau menghabiskan waktu untuk berleha-leha tanpa hasil. Dan ia
ingin membuat orang tuanya bangga padanya seperti pada kakaknya. Ia ingin
membuktikan pada orang tuanya kalau bukan kakaknya saja yang bisa membanggakan
hati orang tuanya tapi ia juga bisa, makanya ia selalu menghabiskan waktu
dengan membaca buku-buku pelajaran atau ensiklopedia. Berteman dengan
orang-orang menurutnya hanya membuang-buang waktu, menceritakan hal-hal yang
bodoh dan tidak bisa menghasilkan apa-apa. Tapi semua pemikirannya ini aku
bantah dengan kata-kata yang membuatnya bungkam, terdiam seolah-olah ia mencerna
apa yang aku katakan.
Kakak Inna adalah
seorang atlet provinsi yang sering memenangkan event-event dalam perlombaan.
Kakaknya yang sebenarnya sangat sayang padanya tapi karena rasa iri Inna
membuatnya benci pada kakaknya, ia tak merasa itu rasa sayang malahan
menurutnya itu ejekan atau sindiran. Biasa namanya juga adik egonya masih
tinggi.
Orang tua Inna
sebenarnya bukan orang tua yang suka pilih kasih dan membandingkan anak-anak
mereka. Orang tua ingin melihat anak-anaknya senang dan bahagia dengan yang
mereka lakukan itulah yang di lakukan ayah ibu Inna. Lagi-lagi kesalahan Inna
yang cemburuan membuatnya tidak berpikir rasional.
Itu secuil kisah Inna
yang aku ketahui setelah aku mengenalnya.
Waktu yang tak pernah
memberikan kita untuk berhenti sejenak. Membuat kami harus berpisah setelah 6
tahun kami bersahabat, menjalin kisah bersama kini kami harus melanjutkan
jalinan itu sendiri dan menemukan jalinan lain untuk membuatnya sempurna. Ya
aku bersahabat dengan Inna 6 tahun, 3 tahun SMP di tambah 3 tahun SMA. Aku
berencana melanjutkan ke perguruan tinggi di luar kota, sedangkan Inna aku tak
tahu sebab setelah hari kelulusan SMA ia tak pernah muncul lagi.
Oh iya aku punya
julukan saat di SMA yaitu “Naila Pengagum Yang Malang” kenapa?, karena saat aku
pertama mengenal CINTA aku tidak pernah berani mendekati cowok yang aku taksir
walau hanya untuk berkenalan. Naasnya lagi sampai lulus pun kisah cintaku tak
pernah diketahuinya.
777
Aku mendapatkan banyak
hidayah disini, di tempat orang-orang merasa bukan apa-apa di hadapan Sang Maha
Pemilik Kekuasaan Dunia ini. Di batinku, aku betekad akan menjalankan
perintah-Nya sekarang dan tak akan lagi menunda-nunda. Kenapa menunggu sore
hari bila kita berada di pagi hari. Tak ada yang tahu umur seseorang itu yang
membuatku bertekat melakukannya sekarang.
“Nai, gimana
jalan-jalan kita hari ini?” Tanya Inna ketika kami berjalan menuju mobil untuk
pulang kerumah, membuat lamunanku terputus.
“Tak ada yang
menandingi keindahan yang aku lihat hari ini. Kau tahu aku belum pernah merasa
sedamai dan setenang ini berada di sekeliling orang banyak, dan aku
merasakannya sekarang”.
Perjalanan pulang pun
tak kurasakan lelah.
Selesai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar