Sabtu, 11 Januari 2014

CERPENKUUUU



TERNYATA AIR DEKAT DENGAN TANAH TANDUSKU
BY NORMAYANTI
Perkenalkan namaku NAILA PUTRI. Aku seorang penulis di sebuah perusahaan penerbitan, aku sekarang sedang menjalani tugas sebagai pengarang cerita pendek atau cerpen untuk majalah anak-anak. Sudah kurang lebih 2 tahun pekerjan ini aku jalani dengan penuh hikmat tanpa halangan ditambah manegerku yang baik plus ramah. Aku tinggal serumah dengan salah satu adikku yang sekarang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi yang ada di Jambi.
Menurut orang-orang sekitarku, kepribadianku adalah hidup sesukaku dan tidak teratur, bukan orang yang rapi dan tidak rajin, hidupku menurut mereka bahagia dan penuh keceriaan tidak pernah mengeluh dan bertekad baja. Otot kawat tulang besi, bukan itu Samson.
Next aku mengukir kisah ini disaat aku mulai beranjak remaja. Tepat saat aku duduk di bangku SMP di kampung halamanku. Sebenarnya aku ingin masuk pondok pesantren saat itu tapi kata ibu, “kamu masih terlalu dini untuk melakukan semua dengan sendiri” gitu. Ya aku sebagai anak, tak bisa berbuat apa-apa kalau orang tua sudah tidak mengizinkan hanya tinggal nurut saja.
Aku ingat saat itu hari senin pelajaran di kelasku sudah hendak dimulai, ada seorang murid yang terburu-buru masuk ke kelas dan langsung duduk di bangku sebelahku, yang saat itu masih kosong. Aku hanya menatapnya dengan heran, “ini siapa tahu-tahu langsung nyelonong duduk disebelahku tanpa izin dulu “ batinku. Dia melihatku lalu cuek dan membuang muka, kesalnya minta ampun aku dibuatnya. 
Seorang guru tiba-tiba masuk dan menyapa kami. “pagi anak-anak ini pertama kalinya kita bertemukan?” katanya. “ iya buuuu”, jawab kami hampir bersamaan seperti dikomando. “maka dari itu kita kenalan dahulu, oke!” lanjutnya.
Perkenalan pun berlanjut hingga jam pelajaran itu habis. Begitulah seterusnya setiap guru masuk ke kelas hingga jam pelajaran berakhir dengan bunyi bel tiga kali. Murid yang duduk disebelahku tadi sedikit pun tidak berbicara padaku, terkadang hanya memandang sekilas. Oh aku tahu namanya Inna Dwinda, aku tahu karena perkenalan di kelas tadi. Saat aku hendak keluar kelas aku berusaha agar bisa di depannya untuk menyapanya, tapi usahaku sia-sia ia terlihat terburu-buru sehingga aku tak bisa mengejarnya. Inna gadis remaja yang cantik, rambutnya ikal bergelombang seperti disosis, kulitnya putih bersih kayak orang-orang bule. Tapi sikapnya yang membuatku tidak senang, ia terlihat seperti gadis yang cuek, tidak peduli sekitar dan tertutup, ini hanya pandangan dari mataku saja karena aku belum mengenalnya lebih dekat.
 Itulah awal perjalanan panjangku menuju sebuah jalan yang penuh kelok-kelokan.
Hampir dua minggu kami masuk sekolah, tapi tak ada tanda-tanda gadis cuek disebelahku ini ingin berkenalan denganku. Aku gelisah dan berpikir keras bagaimana supaya aku bisa berkenalan dengannya. Aku mencoba menjatuhkan penaku di bawah kursinya, berharap ia merespon, tapi sayang ia tak merespon seperti harapanku ia hanya mengambil pena itu dan meletakannya di depanku. Aku tidak hilang akal, aku menyikutnya kemudian aku minta maaf berpura-pura itu sebuah ketidaksengajaan. Tapi belum rencana ini terlaksana seperti yang aku bayangkan bel keluar main berbunyi. Ah gagal rencanaku. Aku tak begitu saja berputus asa, saat ia hendak keluar aku mencoba ramah dan tersenyum kepadanya, kemudian apa responsnya ia hanya melengos pergi tanpa membalas senyumku, gondokku sudah menutupi semua mukaku, aku malunya nggak ketulungan.
Semua usaha kecilku seperti mencagilnya, menjailinya sudah kujalani dan semua usaha itu berakhir tanpa hasil yang memuaskan. Tapi aku tidak menyerah masih ada cara lain dan aku percaya dengan kata pepatah ini “kalau ada niat pasti ada jalan”, betul kan?.
Bel masuk kelas berbunyi. Teeet teeet. Aku sudah duduk manis saat ia masuk kemudian duduk di sebelahku. Aku ingin sekali menyapanya, tapi ragu takut kejadian sebelumnya terulang lagi. Setelah ku kumpulkan semua keberanianku, Bissmillah. “hai!” aku mencoba ramah dan membuat suasana hangat. “hai” katanya dengan nada datar. Aku berdehem. “kita kan udah sebangku dua minggu tapi kita belum pernah kenalan secara langsung”,lanjutku. “trus?” jawabnya tetap focus pada buku di depannya.
“kenalin namaku Naila Putri. Aku dari SD 122/X tepatnya itu SD sebelah. Aku tinggal tidak jauh dari sekolah kita ini kok. Hmm… Nama kamu Inna, kan?”, tanyaku dengan snyum-senyum malu. Dia hanya mengangguk. “iya aku tahunya saat perkenalan pertama dulu.” Lanjutku sambil berpikir, ini anak kok nyolot banget ya aku udah usaha buat kenalan baik-baik eeeh dianya malah nyebelin. “hmmm, itu kamu sudah tahu aku.” Jawabnya singkat, padat plus di injek-injek biar tambah padat, dan tetap tak memandang ke arahku.
Aku tak berkata-kata lagi. Jleeb seperti tertonjok pukulan penuh di perutku. Aku menyerah. Mungkin ia sedang ada masalah makanya ia sedikit sensitive, batinku mencoba berpositif thingking.
Aku tidak pernah melihatnya bergaul dengan teman-teman yang lain. Aku sering mencoba mengajaknya untuk bergabung dengan kelompok kami tapi ia hanya menggeleng dan kembali asik dengan buku di depannya. Temen-temen sekelasku bertanya padaku, “kenapa dia bertingkah seperti itu?”. Aku hanya diam atau berkata aku tak tahu.
777
Sore ini aku ada acara dengan teman kerjaku, katanya merayakan kesuksesan yang telah kami raih. Acara makan malam bersama seluruh staf perusahaan, sekalian mengenalkan pegawai baru.
Tiba di kafe kotree. Aku datang terlambat karena diluar sedang hujan deras. Aku langsung berbaur dengan teman-temanku.
Di sudut meja ada seorang wanita yang menggunakan kerudung biru, lalu tersenyum padaku. Wajahnya tidak asing di ingatanku. Wajah itu mirip wajah gadis remaja yang selalu sendiri sambil memegang buku, tapi kenapa berkerudung? Apa aku salah orang, batinku.
Wanita itu mendekat dan menyapaku. “Naila, kan?” katanya dengan suara lembut.  Aku hanya mengangguk. Lalu ia memelukku sambil mencium pipi kiri dan kananku. Aku hanya diam tak merespon.
“apa kabar?” katanya lagi. “Hah! Ak..u.. Alhamdulillah baik”, aku sedikit kiku dan tak percaya dengan yang ku lihat.
Dia tersenyum. “Nai kamu lupa sama aku?”, heran melihatku tetap diam terpaku.
Aku dengan memasang wajah berfikir keras seakan-akan sedang mengingat sesuatu. “Ahh aku ingat Inna Dwinda anaknya pak kusnan yang cengeng, Hahaha….”, Tawaku pecah. Lalu aku memeluknya erat.
“hahahaha… kamu Naila pengagum yang malang”, sambil mencuil pipiku.
Aku merengut seolah-olah tersinggung dengan gurauannya. “Eh aku sudah bukan pengagum lagi, tapi di kagumi oleh para pengagumku. Hehehe..”.
“iya deh. Susah lah kalo mbak Naila udah ngotot”, jawabnya menengahi.
Aku berbicara panjang lebar tinggi gede semua nya aku omongin dengannya. Ia hanya mendengarkan ocehanku dan sesekali tertawa renyah menanggapi ocehanku.
Teman-teman kerja aku saling tatap pandang melihat kami yang sangat akrab. Tity salah satu teman kerjaku mendekat dan ikut berbincang-bincang dengan kami. Pembicaraan sore itu sangat seru dan penuh keceriaan di wajah kami. Adzan Magrib berkumandang membuat obrolan kami terhenti, kami memutuskan untuk pulang karena teman-teman yang lain sudah banyak yang pulang sejak tadi.
777
Aku berjalan di koridor sekolah saat pulang sekolah. Di persimpangan jalan aku melihat Inna murid yang duduk di sebelahku sedang menangis di samping kelas sendirian. Aku mendekat ingin membantunya siapa saja aku bisa menolong meringankan bebannya. Melihatku tangisnya semakin terisak-isak dan… ia langsung berlari memelukku. Aku diam tak bergerak bingung apa yang harus aku lakukan.
“hmmmm… Inna, kamu.. kenapa?” aku mencoba memecah kesunyian ini.
Ia berlahan-lahan melepaskan pelukannya dan menyapu air mata di pipinya. “mengapa semua orang tidak pernah mengerti aku dan menganggap aku ada? Aku ingin seperti anak lain yang bahagia berada dalam keharmonisan keluarga, aku ingin mereka mengerti kemampuanku, mengerti sikapku. Aku ingin seperti Gadis kecil beranjak remaja yang dipenuhi rasa bahagia karena jatuh cinta, memiliki sahabat yang selalu menceritakan hal-hal yang lucu untuk di tertawakan, sahabat tempat kita berbagi kisah.” Katanya sambil menyeka air mata yang mengeliri pipi tembemnya.
777
Pagi yang cerah ditambah ini adalah tanggal baru di bulan Agustus. Aku libur kerja dan akan berencana pergi ke sebuah tempat bersama Inna. Kata Inna tempat itu adalah tempat anak-anak manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT, tempat para pelaksana sunnah Nabi dan tempat selalu terlantunya ayat-ayat Al-Qur’an. SubhanAllah, dimana ada tempat seperti itu.
Tepat  pukul 8 pagi, Inna menjemputku.
“Na kita mau kemana toh sebenarnya?” tanyaku penasaran. Si Innanya hanya tersenyum terus menggeleng. Jadi akuyang lakukan hanya duduk sambil memendam rasa penasaranku. Dari arah jalanan yang kami lalui seperti masuk ke pelosok desa. Dimana ini?.
Perjalanan yang kami tmpuh hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke tempat tujuan. Sebelum memasuki tempat itu kami sudah disuguhi pemadangan yang sangat mempesona. Dan sampailah kami di sebuah gapura yang bertuliskan pondok pesantren Babussalam. Waah mulutku ternganga melihat para penghuni gapura itu. Semua penghuninya adalah perempuan, tidak ada laki-laki disini. Semua mengenakan pakaian rapi, berseragam sama, memancarkan kasih sayang setiap bertatap muka, dan tak lupa kitab suci Al-Qur’an selalu di dekapan tangan dan dada mereka.
“Inna mengapa kau mengajakku kesini?”.
“Disini aku menjadi wanita dan manusia yang sesungguh Nai, awal aku kesini saat kita berpisah. Budeku yang tinggal di sekitar sini menyarankanku untuk nyantri disini. Maka itu sekarang aku sudah berhijab dan menutup auratku. Mengapa aku mengajakmu kesini, karena aku ingin mengajakmu bersama-sama belajar dibarengi melakukan syariat islam. Kamu maukan?” katanya dengan lembut.
Tak terasa air mataku mengalir dan hatiku bergetar hebat mendengar tuturnya, sungguh indahnya Kau menciptakaan persahabat ini yang membawaku kembali ke jalan-Mu ya Rabb. Aku mengangguk pelan kemudian berhambur memeluknya erat-erat sekali. “aku mau… aku mau Inna”.
777
Semenjak Inna kepergok nangis di samping kelas itu, kami jadi sahabat akrab, bahkan sangat akrab. Awalnya teman sekelasku heran kenapa kami bisa dekat, sebab lihat saja Inna, ia yang tak mau bicara dengan siapa pun sekarang bisa tertawa lepas bersamaku, tapi mereka tidak terlalu ambil pusing dan mengabaikan kami. Biarlah, bagus dong itu komentar mereka.
Soal mengapa dia menangis, katanya ia iri sama kakaknya yang selalu bisa membahagiakan orang tuanya. Ia juga bilang kalau kasih sayang yang orang tuanya berikan padanya tidak sama seperti pada kakaknya. Pilih kasih gitu. Aku hanya memberi saran padanya kalau rasa iri itu wajar tapi jangan sampai membuatmu lupa diri dan membuatmu menyesal kelak.
Terus ini masih soal Inna kenapa dia dulu pendiem dan gak mau berteman sama temen-temen yang lain, karena ia tidak mau menghabiskan waktu untuk berleha-leha tanpa hasil. Dan ia ingin membuat orang tuanya bangga padanya seperti pada kakaknya. Ia ingin membuktikan pada orang tuanya kalau bukan kakaknya saja yang bisa membanggakan hati orang tuanya tapi ia juga bisa, makanya ia selalu menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku pelajaran atau ensiklopedia. Berteman dengan orang-orang menurutnya hanya membuang-buang waktu, menceritakan hal-hal yang bodoh dan tidak bisa menghasilkan apa-apa. Tapi semua pemikirannya ini aku bantah dengan kata-kata yang membuatnya bungkam, terdiam seolah-olah ia mencerna apa yang aku katakan.
Kakak Inna adalah seorang atlet provinsi yang sering memenangkan event-event dalam perlombaan. Kakaknya yang sebenarnya sangat sayang padanya tapi karena rasa iri Inna membuatnya benci pada kakaknya, ia tak merasa itu rasa sayang malahan menurutnya itu ejekan atau sindiran. Biasa namanya juga adik egonya masih tinggi.
Orang tua Inna sebenarnya bukan orang tua yang suka pilih kasih dan membandingkan anak-anak mereka. Orang tua ingin melihat anak-anaknya senang dan bahagia dengan yang mereka lakukan itulah yang di lakukan ayah ibu Inna. Lagi-lagi kesalahan Inna yang cemburuan membuatnya tidak berpikir rasional.
Itu secuil kisah Inna yang aku ketahui setelah aku mengenalnya.
Waktu yang tak pernah memberikan kita untuk berhenti sejenak. Membuat kami harus berpisah setelah 6 tahun kami bersahabat, menjalin kisah bersama kini kami harus melanjutkan jalinan itu sendiri dan menemukan jalinan lain untuk membuatnya sempurna. Ya aku bersahabat dengan Inna 6 tahun, 3 tahun SMP di tambah 3 tahun SMA. Aku berencana melanjutkan ke perguruan tinggi di luar kota, sedangkan Inna aku tak tahu sebab setelah hari kelulusan SMA ia tak pernah muncul lagi. 
Oh iya aku punya julukan saat di SMA yaitu “Naila Pengagum Yang Malang” kenapa?, karena saat aku pertama mengenal CINTA aku tidak pernah berani mendekati cowok yang aku taksir walau hanya untuk berkenalan. Naasnya lagi sampai lulus pun kisah cintaku tak pernah diketahuinya.
777
Aku mendapatkan banyak hidayah disini, di tempat orang-orang merasa bukan apa-apa di hadapan Sang Maha Pemilik Kekuasaan Dunia ini. Di batinku, aku betekad akan menjalankan perintah-Nya sekarang dan tak akan lagi menunda-nunda. Kenapa menunggu sore hari bila kita berada di pagi hari. Tak ada yang tahu umur seseorang itu yang membuatku bertekat melakukannya sekarang.
“Nai, gimana jalan-jalan kita hari ini?” Tanya Inna ketika kami berjalan menuju mobil untuk pulang kerumah, membuat lamunanku terputus.
“Tak ada yang menandingi keindahan yang aku lihat hari ini. Kau tahu aku belum pernah merasa sedamai dan setenang ini berada di sekeliling orang banyak, dan aku merasakannya sekarang”.
Perjalanan pulang pun tak kurasakan lelah.
Selesai.