Sabtu, 27 September 2014

TIGA WARNA PELANGI MIMPI




By: Normayanti
Universitas Jambi
Aku Normayanti. 18 tahun. Gadis yang tak ingin berhenti melangkah sampai terwujudnya cita-citaku.  Berjuang dari kepribadian diri yang biasa ingin menjadi yang luar biasa.
Aku menemukan hidup baru saat menginjakkan kaki di ranah kebesaran Universitas Jambi Kampus Pinang Masak. Melewati gerbang yang akan membawaku ke sebuah kesuksesan besar. Amiin.
Terjerumus ke dalam jurusan pendidikan fisika memang niatku saat memilih jurusan ke perguruan tinggi. Asik, menarik cara mengajarnya, tapi tetap focus membuat aku terinspirasi menjadi seperti beliau itu, beliau adalah guruku yang bernama Misriza waktu aku masih duduk di bangku SMA dulu. Itulah yang telah berpengaruh besar terhadap pilihanku, tak masalah aku senang dengan hidupku yang aku pilih saat ini.
Menjelajahi dunia kampus, membuka setiap lembar peta kisah menarik telah aku mulai. Melihat gambaran disetiap lembar peta membuat tekad bulat hatiku untuk membuat sebuah perencanaan atau planning. Saat pertama masuk ke kelas perkuliahan aku melihat dosen yang hebat-hebat, aku ingin seperti mereka. Dosen yang disenangi para mahasiswa, berwibawa namun tetap santai, menginspirasi, mengajarkan dan membuat anak bangsa di Negeri tercinta ini sadar dengan pendidikan dan kehidupan yang baik di masa depan.
Menelaah lebih dalam pada manusia penghuni peta yaitu kakak tingkatku, mereka yang sering mengikuti ajang-ajang menulis seperti ajang lomba karya tulis, esai, cerpen dan puisi tingkat daerah maupun nasional, melihat para penulis-penulis itu yang mudah mencurahkan ide brilliantnya membuat aku tertarik menjadi salah satu diantara mereka. Aku pun mulai menyenangi budaya membaca untuk mempermudahku menuangkan kata-kata ke sebuah tulisan di atas kertas. Aku juga mulai ikut perlombaan yang diadakan di Universitas ini. Aku pernah mengikuti lomba cerpen 2 kali namun gagal, tapi harus tetap semangat ini baru langkah awal, terjatuh itu biasa. Terakhir aku mengikuti lomba puisi dan senang bukan kepalang, aku menjadi satu-satunya pemenang. Maka cita-citaku untuk menjadi penulis tak boleh berhenti hanya disini, ini hanya awal yang baik, dan harus terus maju membuat kisah-kisah mengagumkan di lembaran cerita hidupku.
Orang tuaku seoarang petani kebun, setelah hasil panen selesai di olah ia membawa ke toke hasil panen. Begitu berat kerja yang mereka lakukan untuk anaknya. Dari kecil aku melihat lengan berotot itu membawa beban di kedua tangan bahkan  terkadang  pundaknya, membuat aku ingin menggantikan posisi mereka. Dan juga melihat di Indonesia masih banyak pengangguran,  aku ingin membuat sebuah usaha yang bisa menampung para manusia yang tak punya pekerjaan dan tujuan itu dan akan ku bangun di desa tempat ku tinggal untuk memajukan desa tempat tinggalku. Aku mulai menyimak sekitar bagaimana aku harus memulai sebuah usaha nanti?  bagaimana aku bisa memulainya? Usaha apa yang akan ku buat? Dari mana modalnya? Bagaimana bila nanti gagal? Pertanyaan-pertanyaan  sulit membuat aku selalu takut mengambil sebuah keputusan. Namun, aku akan tetap mempelajari dimana aku bisa memulainya, dan menghilangkan rasa takut dan keraguan ini.
Ketiga cita-citaku itu akan ku genggam dan ku kepal erat dengan tangan di samping kepalaku. Lima tahun kedepan minimal salah satu dari itu akan menjadi milikku.

Kenangan hidup mana yang ingin anda hapus dari daftar kenangan hidup anda?




Disetiap kehadiran seseorang dalam hidup kita, ia akan meninggalkan jejak kenangan dalam diri kita.
Dan disetiap banyak kenangan itu, pasti ada satu kenangan yang tak akan pernah kau lupa darinya. Entah kenangan itu baik atau buruk. Kenangan. Kita sering menyebut itu sebagai sebuah peristiwa dalam hidup yang telah berlalu.
Ketika dia datang untuk tersenyum padamu. Kau akan membalas senyum itu. Dan itu akan membekas dalam ingatanmu. Itu kenangan.
Terkadang memang kita ingin melupakan kenangan yang telah berlalu itu. Kita biasa menyebutnya kenangan pahit. Kenangan yang hanya berisi tetang luka, sakit hati, dan penyesalan. Apa boleh buat kenangan telah berlalu. Kita tidak akan pernah tahu bagaiman cara menghapusnya dari ingatan kita.
Ketika kita menginginkan kenangan pahit itu terhapus dari otak kita maka kita juga menginginkan kenangan terindah yang pernah kita rasakan pun akan hilang dari hidup kita.
Sebaiknya kita berpikir lebih dahulu. Maukah anda lupa kenangan indah bersama orang yang anda cintai hilang? Maukah anda lupa kapan anda jatuh cinta? Kapan ada tertawa bersama keluarga? Apa semua itu tidak lebih berharga dari pada kenangan pahit yang telah kita rasakan?
jika saya dalam posisi itu. Maka saya lebih memilih untuk tidak mengilangkan semua kenangan itu. Karena semua itu adalah pengalam terindah yang tak akan pernah terulang untuk kedua kalinya dalam hidupku. Walau pun didalamnya penuh dengan kenangan pahit. Kenangan pahit itu akan menjadi obat disaat aku terjatuh nanti.
Iya. Mungkin ada diantara kalian yang berfikir aku terlalu naïf atau sok bijak.
Aku tidak pernah menyalahkan pemikiran seseorang. Itu hak setiap individu untuk mengeluarkan pendapat atau asumsinya.
Memang sangat-sangat sulit untuk kita berdamai dengan dunia pahit kita. Tapi lebih mampukah jika dunia pahit itu akan selama pahit jika kita tidak membuatnya manis dengan merelakannya. Itu akan membuat hidup kita terasa ringan. Kita tidak perlu lelah memikirkan kenangan itu. Kita tidak perlu bersedih setiap mengingatnya. Kita tidak perlu khawatir lagi ketika kenangan itu menghampiri lagi. Tidakkah hidup akan lebih mudah?
Indah. Justru keindahan itu akan terasa sangat indah ketika kita telah melewati kepahitan. Semakin pahit jalan itu maka semakin indah rasa itu.
Jangan pernah takut untuk merasakan pahit, karena dengan pahit kita akan merasakan manis. Kita tahu rasanya manis. Kita tahu itu salah. Kita tahu itu benar. Kita tahu mereka benci. Kita tahu mereka rindu. Kita tahu rasa cinta. Kita tahu rasanya patah hati. Kita tahu rasanya kehilangan. Kita tahu rasanya hidup sendiri. Kita tahu semua yang kita tidak tahu.