By:
Normayanti
Universitas
Jambi
Aku Normayanti. 18
tahun. Gadis yang tak ingin berhenti melangkah sampai terwujudnya
cita-citaku. Berjuang dari kepribadian
diri yang biasa ingin menjadi yang luar biasa.
Aku menemukan hidup
baru saat menginjakkan kaki di ranah kebesaran Universitas Jambi Kampus Pinang
Masak. Melewati gerbang yang akan membawaku ke sebuah kesuksesan besar. Amiin.
Terjerumus ke dalam
jurusan pendidikan fisika memang niatku saat memilih jurusan ke perguruan
tinggi. Asik, menarik cara mengajarnya, tapi tetap focus membuat aku
terinspirasi menjadi seperti beliau itu, beliau adalah guruku yang bernama
Misriza waktu aku masih duduk di bangku SMA dulu. Itulah yang telah berpengaruh
besar terhadap pilihanku, tak masalah aku senang dengan hidupku yang aku pilih
saat ini.
Menjelajahi dunia
kampus, membuka setiap lembar peta kisah menarik telah aku mulai. Melihat
gambaran disetiap lembar peta membuat tekad bulat hatiku untuk membuat sebuah
perencanaan atau planning. Saat pertama
masuk ke kelas perkuliahan aku melihat dosen yang hebat-hebat, aku ingin
seperti mereka. Dosen yang disenangi para mahasiswa, berwibawa namun tetap
santai, menginspirasi, mengajarkan dan membuat anak bangsa di Negeri tercinta
ini sadar dengan pendidikan dan kehidupan yang baik di masa depan.
Menelaah lebih dalam
pada manusia penghuni peta yaitu kakak tingkatku, mereka yang sering mengikuti
ajang-ajang menulis seperti ajang lomba karya tulis, esai, cerpen dan puisi
tingkat daerah maupun nasional, melihat para penulis-penulis itu yang mudah
mencurahkan ide brilliantnya membuat aku tertarik menjadi salah satu diantara
mereka. Aku pun mulai menyenangi budaya membaca untuk mempermudahku menuangkan
kata-kata ke sebuah tulisan di atas kertas. Aku juga mulai ikut perlombaan yang
diadakan di Universitas ini. Aku pernah mengikuti lomba cerpen 2 kali namun
gagal, tapi harus tetap semangat ini baru langkah awal, terjatuh itu biasa.
Terakhir aku mengikuti lomba puisi dan senang bukan kepalang, aku menjadi
satu-satunya pemenang. Maka cita-citaku untuk menjadi penulis tak boleh
berhenti hanya disini, ini hanya awal yang baik, dan harus terus maju membuat
kisah-kisah mengagumkan di lembaran cerita hidupku.
Orang tuaku seoarang
petani kebun, setelah hasil panen selesai di olah ia membawa ke toke hasil
panen. Begitu berat kerja yang mereka lakukan untuk anaknya. Dari kecil aku
melihat lengan berotot itu membawa beban di kedua tangan bahkan terkadang pundaknya, membuat aku ingin menggantikan
posisi mereka. Dan juga melihat di Indonesia masih banyak pengangguran, aku ingin membuat sebuah usaha yang bisa
menampung para manusia yang tak punya pekerjaan dan tujuan itu dan akan ku
bangun di desa tempat ku tinggal untuk memajukan desa tempat tinggalku. Aku
mulai menyimak sekitar bagaimana aku harus memulai sebuah usaha nanti? bagaimana aku bisa memulainya? Usaha apa yang
akan ku buat? Dari mana modalnya? Bagaimana bila nanti gagal? Pertanyaan-pertanyaan
sulit membuat aku selalu takut mengambil
sebuah keputusan. Namun, aku akan tetap mempelajari dimana aku bisa memulainya,
dan menghilangkan rasa takut dan keraguan ini.
Ketiga cita-citaku itu
akan ku genggam dan ku kepal erat dengan tangan di samping kepalaku. Lima tahun
kedepan minimal salah satu dari itu akan menjadi milikku.